Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Karena Memaafkan Bukan Berarti Melupakan

Memaafkan mengandung rasa mengampuni, tetapi tidak menjanjikan untuk bersedia menganggap itu tak pernah terjadi. Tetap menuliskannya di dalam sejarah, namun tidak lagi dengan luapan emosi yang normal. Peristiwa tersebut dilirihkan, dikendurkan, agar tak mampu menyentuh perasaan lagi.

Melupakan adalah seperti membatalkan kejadian. Tak hanya menghapus dari kenangan, tetapi juga mengeluarkan hal tersebut dari sejarah. Tapi di pihak lain, melupakan tak pernah mengampuni, tapi hanya ingin melenyapkan. Jadi memaafkan tak selamanya berarti melupakan. Namun melupakan, bila tak ada pernyataan secara formal, sebenarnya secara diam-diam memaafkan.

Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan terlepas dari hubungan dengan manusia lain. Memaafkan dan terkadang melupakan merupakan bagian dari kebutuhan hubungan sosial. Tanpa perasaan memaafkan, maka tidak akan berlangsung kehidupan manusia hingga saat ini. Niscaya akan ada banyak perselisihan yang tak kan pernah habisnya. Manusia sebagai makhluk yang berakal juga memiliki perasaan. Kedua potensi itu memungkinkan untuk memiliki sifat-sifat yang mulia, tapi juga sebaliknya. Kedua potensi itu pula dapat merendahkan manusia lebih dari binatang.

Rasa marah, kecewa adalah perasaan yang tidak dipungkiri dapat hinggap ke dalam hati setiap manusia. Rasa sakit yang ditahan, rasa kecewa yang kerap disimpan, keduanya bukan tidak mungkin justru malah akan menimbulkan penyakit hati manusia. Manusia tidak akan pernah sempurna tanpa kehadiran manusia lainnya. Rasa marah yang mungkin saat ini disimpan, pernahkah terbesit kehadiran, keberadaan, dan keberhasilan kita juga karena kehadiran manusia lainnya.

Memaafkan dan melupakan dilakukan karena tiada berguna menahan perasaan yang justru membatasi kita dalam bergerak. Memaafkan dan melupakan dilakukan karena buat apa perasaan yang dimiliki justru malah menyempitkan hati. Memaafkan dan melupakan dilakukan karena ternyata perasaan yang kita tahan membedakan perilaku kita sesama saudara. Memaafkan dan melupakan dilakukan karena jika ternyata emosi yang kita tahan lahir bukan karena Allah SWT.
Karena memaafkan bukan berarti melupakan.
Karena memaafkan bukan berarti memaklumi.
Karena memaafkan bukan berarti berdamai.

Menangis Dapat Melegakan Hati Yang Galau

Terhadap menangis, mungkin kita tidak merasa adanya keunikan apa pun. Kita kerap menangis, bahkan hampir setiap hari melihat air mata di wajah orang lain.

Pada tahun 80-an abad lalu, Universitas Minnesota, AS, telah mengadakan sebuah penelitian terhadap 300 lebih laki-laki dan perempuan sebagai obyeknya.

Dari hasilnya didapati, wanita rata-rata menangis 5 kali setiap bulan, sedangkan laki-laki sekali dalam 4 pekan. Hal pertama yang dilakukan bayi ketika lahir adalah menangis keras, mengumumkan kepada semua orang : “Aku datang!”
Tangisan manusia

Mengapa tangis itu begitu unik, bukan karena suara raungan tangis, tapi karena air mata yang penuh dengan perasaan. Binatang juga bisa meraung, mengerang dan meringkik, namun, tidak akan bergejolak dan meneteskan air mata, meski pun dengan binatang cerdik yang paling dekat hubungannya dengan kita sekali pun.
Air mata membawa pergi kerisauan.

Mengapa setelah sebagian besar orang menangis meraung, perasaan akan terasa lega? ilmuwan mendapati, bahwa saat menangis, air mata yang menetes dapat membersihkan hormon lebih dalam tubuh, dan justru karena hormon-hormon inilah yang membuat kita galau.

Akar dari perilaku yang rumit umumnya sangat sederhana, begitulah kalau menangis. Sama seperti binatang lainya, saat manusia baru hadir di dunia, akan meratap untuk menyatakan kesedihannya.

Setelah dewasa, dimana secara tak terhindarkan tangisan kita akan bercampur dan meresap kedalam faktor perasaan, dan informasi yang dibawa tangisan, tidak sedemikian sederhana lagi hanya pada gangguan di tubuh (sakit) atau kebutuhan fisiologis.

Perubahan ini bukan berarti mekanisme fisiologi tidak lagi efektif, tapi, karena tangis sudah mempunyai hubungan yang semakin dalam dengan fungsi otak dan perasaan yang semakin subtil, dan fungsinya semakin penting. Bagi sekitar orang yang menangis, arti dari air mata adalah perasaan yang kuat dan real.
Air mata terbagi 3 jenis

Sepanjang hayat manusia biasanya akan meneteskan 3 jenis air mata. Air mata yang paling fundamental akan terjadi ketika setiap kali mengedipkan mata, ia membasahi bola mata kita.

Jenis air mata kedua adalah air kata pemantulan, ketika mata kita mengalami luka, atau terkontak gas yang merangsang mata, maka mata kita akan meneteskan air mata demikian. Ketiga, air mata perasaan, yaitu air mata yang menetes saat kita menangis.

Kedua jenis air mata yang pertama tersebut di atas memiliki komposis kimia yang sama, namun, komposisi kimia pada air mata yang bergejolak (perasaan) tidak sama, setelah menganalisa komposisi-komposisi ini, kita akan dapat mengetahui efek air mata.

Ahli biokimia dari Universitas Minnesota William Ferea mendapati, dalam air mata yang bersifat perasaan, jenis protein lebih besar 20%-25% dibanding air mata pemantulan, apalagi kadar kalium adalah 4 kali lipatnya dari yang disebut terakhir di atas, dan kekentalan mangan lebih tinggi 30 kali lipat dibanding serum. Air mata ini juga banyak mengandung hormon, seperti misalnya hormon kulit adrenal. (Dikutip dari eradotcom)

MENJADI MANUSIA YANG KONGRUEN


Saya berusaha mencari padanan kata “congruent” dalam bahasa Indonesia. Dalam kamus bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “sama dan sebangun” dan “kongruen”.

Menarik bagi saya membahas fenomena menjadi manusia yang kongruen. Apakah Anda telah menjadi manusia yang kongruen dalam hidup ini? Sadarkah Anda hidup akan menjadi terasa sangat membebani dan berat saat Anda sebenarnya tidak kongruen dalam berbagai segi kehidupan Anda?

Sadar atau tidak kita selalu menggunakan topeng dalam menjalankan kehidupan. Saat di hadapan anak kita, kita menggunakan topeng, saat ngobrol dengan suami atau istri kadang kita juga mengenakan topeng tertentu. Apalagi saat kita menghadapi orang lain di luar, di kantor, di meeting bisnis kita mengenakan topeng tertentu. Itulah sebabnya banyak istri juga yang heran, mengapa diluaran suaminya menjadi seorang pribadi yang hangat dan ramah sedangkan di rumah suaminya hanya diam baca koran. Karena si suami mengenakan topeng yang berbeda pada berbagai kesempatan yang berbeda.

Semakin banyak “topeng” yang ada kenakan dalam berbagai peristiwa membuat hidup kita semakin lelah dan menjadikan kita sebagai manusia yang tidak seutuhnya. Mengapa? Karena apa yang kita jalankan adalah “memainkan peran”. Kita memainkan peran tertentu di moment-moment yang berbeda. Pada tiap moment, ada peran yang kita mainkan. Sehingga pada akhir hari, kita akan merasa lebih lelah secara bathin karena berbagai peran tersebut. Yang parahnya, peran tersebut akan membuat kita semakin bingung, siapakah sebenarnya diri saya yang sejati. Pada saat kita mencari kebahagiaan, kita akan semakin bingung karena jati diri kita sendiri memiliki banyak versi dan kita tidak jelas mana sesungguhnya yang merupakan diri saya yang sejati.

Sehingga bagi saya menjadi manusia yang kongruen adalah merupakan pilihan yang tepat dan bijaksana. Apakah itu kongruen? Kongruen memiliki makna “sama” dan “sebangun”. Dalam arti dalam setiap moment kehidupan Anda, Anda menjadi diri Anda sendiri yang sejati, tanpa memakai topeng. Anda berani memunculkan diri Anda apa adanya, dengan siap tentunya menanggung resiko segala konsekuensinya.

Memunculkan diri apa adanya tentu menimbulkan suatu ketakutan tersendiri. Karena kita tahu diri kita tidak sempurna, kita tahu dengan jelas kelemahan-kelemahan yang kita miliki. Kita memiliki ketakutan bahwa diri kita yang apa adanya adalah tidak menarik, tidak akan disukai orang, akan membuat kita menjadi pribadi yang menjadi sorotan banyak orang. Namun disinilah letak masalahnya. Banyak orang hidup memakai topeng. Mengapa mereka merasa perlu memakai topeng? Karena mereka hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Mereka mengharapkan dengan memakai topeng yang tepat dalam lingkungan yang tepat akan membuat mereka diterima bahkan akan menjadikan diri mereka lebih populer. Nah ekspektasi inilah yang memotivasi seseorang mengenakan topeng. Ada juga yang mengenakan topeng karena ada yang disembunyikan. Ada yang merasa tidak nyaman dengan siapa dia sebenarnya sehingga perlu memakai topeng untuk menutupi hal tersebut. Orang tersebut sebenarnya memakai topeng juga untuk ”menipu” dirinya sendiri, bukan sekedar demi opini dan penerimaan dari pihak lain.

Nah disinilah sebenarnya saya menantang Anda untuk memiliki sikap hidup yang kongruen. Artinya tampilah dimanapun, di depan siapapun sebagai diri Anda sendiri. Tidak mengenakan topeng. Menjadi jati diri diri Anda yang sejati. Truly become yourself. Menjadi manusia yang kongruen dalam arti apa yang Anda pikirkan dan apa yang Anda rasakan akan sama dengan tindakan yang Anda lakukan. Semuanya “sama” dan “sebangun”. Jika Anda merasa tidak dapat memenuhi ekspektasi seseorang maka Anda akan mengatakannya terus terang. Jika Anda tidak suka akan sesuatu maka Anda juga berani mengatakan terus terang, tentu dengan cara yang sopan dan santun.

Tentu agar hal ini tidak menimbulkan konflik perlu pembekalan berbagai skill dan kecerdasan emosional yang memadai. Cerdas secara emosional, bukan berarti mengenakan topeng tapi mengetahui cara yang tepat dan lugas dalam menjalankan hidup menjadi diri kita sendiri. Perlu juga pembekalan berbagai skill seperti skill bagaimana  memanage dan mengeluarkan kemarahan, skill mengatasi konflik, skill mengutarakan dengan baik dan santun apa yang kita tidak setujui,  yang semuanya akan semakin terasah jika Anda terjun menjadi diri Anda sendiri dalam hidup sehari-hari. The more you do it, the more skillful you get.

Apakah dalam menjalankan kehidupan yang kongruen dengan dibekali oleh berbagai skill yang diperlukan dan kecerdasan emosional yang memadai bisa dilatih? Tentu bisa, dengan rajin menggali ilmu dengan membaca atau dengan dibimbing oleh Life Conselor yang berpengalaman. Sehingga kita dapat melatih kepekaan dan hidup menjadi diri saya sendiri dengan nyaman tanpa merasa takut, malu atau terintimidasi.

Dengan hidup sebagai manusia yang kongruen, maka orang-orang yang ada disekeliling kita akan merasakan adanya ketulusan yang terpancar dari pribadi yang apa adanya. Sehingga dengan berbekal ketulusan menjalani hidup, kita akan menerima juga banyak ketulusan dari orang-orang disekeliling kita. Sehingga kita menjadi manusia yang hidup lebih “ringan”, berbahagia dan merasa puas. Dan pada akhirnya apa yang kita rasakan akan dirasakan juga oleh dunia disekeliling. It is contagious. Ini akan menular ke lingkungan di sekeliling Anda. Dan jika dunia kecil disekeliling kita juga hidup secara kongruen maka lama kelamaan kita tentu berharap dunia yang kita tinggal menjadi dunia yang lebih indah. Lepas dari kemunafikan dan hidup dalam sukacita yang penuh ketulusan satu sama lain. (disadur dari Elly Nagasaputra, SE Akt, MA in Counseling)

What Is Empowerment?

by Stephen R. Covey

What does empowerment mean to you? Perhaps more important, what does it mean to most people throughout your organization?

Perhaps the first step in creating an empowered work force is having everyone gain a shared understanding of what empowerment is- and what it is not. It is the powerful governing principle at the managerial level of any organization.

Many managers think of empowerment as delegating decision making to the lowest level possible. In practice, we too often find "empowering" bosses delegating responsibility to subordinates without sufficient authority, understanding, resources or supportive guidance to be effective. People who think they are "empowered" too often resist the limitations and guidance that must accompany any responsibility. True empowerment is not: responsibility without authority or resources, authority to "do your own thing" without limits or accountability, power without focus or consequences, or abandonment by the boss or supervisor.

The root of the English word "empowerment" is power- the ability to do, to accomplish, to perform or enable. The prefix "em" comes from the Latin and Greek, meaning "in" or "within." Empowerment, therefore, can suggest the power within people, the enormous reservoir of creativity, activity and potential contribution that lies within every worker, largely untapped by organizational leadership and management.

In a deeper and more significant sense, employees will become empowered as they are able to apply principles by using core processes. Empowerment comes as people contribute their full potential in attaining both personal and organizational objectives. Your role as an empowering leader might be considered this: To create conditions in which all employees can contribute their maximum potential capacity to achieve the strategic goals and desired results of the organization in meeting stakeholder needs. Empowerment is not a program; it is a core condition for quality.

Think of your role as a leader in comparison to that of a gardener. What does it take to grow a world-class garden? There are many variables, including events in the environment over which you have no control. But the most important principle defining your role is this: the life of the plant is within the seed, not within the gardener!

A gardener creates conditions enabling the life within the seeds to germinate, to blossom, to bear fruit. You cannot guarantee that every seed will yield its maximum possible output, and some seasons will realize a more abundant harvest than others. But if you create the right conditions, over time you can predict that your garden will produce consist ently excellent results.

So it is with developing a quality organization. Your organization is not a machine, and your employees are not interchangeable parts. People are not things. Your organization is a complex, organic ecosystem; you cultivate people, you don't fix or repair them. You can't give, bestow, grant, authorize, delegate or impose empowerment. You create conditions to develop it.

The critical conditions for cultivating an empowering environment include:
Developing trustworthiness and trust; an environment where creativity and managed risks are encouraged; and helping people learn from mistakes.
Creating a system of win-win agreements as the core process for developing mutually beneficial relationships among employees and between the organization and outside stakeholders.
Supporting and encouraging self-directed work teams.
Aligning mission and strategy with customer needs and other forces in the dynamic marketplace, and then organizing structure and systems to support the strategy and each other.
Fostering personal and organizational self-accountability through consistent and frequent 360 degree feedback.
Adopting an empowering style of leadership and management that nurtures, coaches, mentors, releases, encourages and supports people in achieving their best.

When organizational leaders focus on developing conditions of empowerment, they will cultivate a quality culture of effective, productive, interdependent relationships. Such an environment can release within employees the power to contribute their maximum potential to achieving the mission and strategic goals of their organizations. By Muhammad Yunus

10 Kita Berani Sukses by Andrie Wongso

“Manusia sukses adalah manusia yang berani menarik gambar sukses yang akan terjadi nanti ke dalam pikirannya saat ini dan sekaligus berani mewujudkannya!"
 
Sebuah sukses harus diraih melalui perjuangan dan langkah-langkah yang tepat. Jika langkahnya salah, kita tidak akan sampai kepada tujuan masing-masing.

Langkah 1
Pikirkan apa yang BERANI Anda IMPIKAN
Banyak orang yang ingin sukses tapi takut bermimpi, takut mempunyai cita-cita, takut menetapkan target, bahkan takut menetapkan tujuan. Apapun peranan atau posisi Anda, beranilah bermimpi meraih meraih puncak prestasi kesuksesan. Anda adalah apa yang Anda pikirkan!

Langkah 2
Inginkan apa yang BERANI Anda PIKIRKAN
Bila Anda berani berpikir bahwa Anda mampu meraih puncak prestasi dan kesuksesan, Anda harus benar-benar menginginkannya. Jika tidak demikian, Anda tidak akan meraih energi yang besar untuk meraih mimpi.

Langkah 3
Putuskan apa yang BERANI Anda INGINKAN
Setelah Anda sungguh-sungguh mengginginkan apa yang berani Anda pikirkan, buatlah keputusan yang pasti untuk meraihnya. Inilah titik tolak gerak Anda menuju kepada tujuan yang sudah Anda pikirkan.

Langkah 4
Rencanakan apa yang BERANI Anda PUTUSKAN
Jangan bertindak tanpa perencanaan karena itu membuat Anda tidak fokus. Bertindaklah sesuai rencana bisnis Anda. Buatlah rencana sukses untuk jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang, dan mulailah segera!

Langkah 5
Lakukan apa yang BERANI Anda RENCANAKAN
Orang sukses adalah orang yang berani menjalankan rencana bisnisnya secara konsekuen dan pantang menyerah. Tidak ada bisnis yang selalu di atas, tanpa tantangan, dan hambatan. Berbekal perencanaan, orang dapat terus melangkah dengan fokus.

Langkah 6
Yakini apa yang BERANI Anda LAKUKAN
Orang yang memiliki keyakinan kuat terhadap apa yang dilakukannya, pasti lebih besar kemungkinannya untuk berhasil daripada orang yang tidak memiliki keyakinan. Jika Anda meyakini sepenuh hati bahwa menjalankan pekerjaan yang Anda tekuni saat ini akan mengantarkan Anda kepada keberhasilan, maka Anda pasti akan kesana.

Langkah 7
Perjuangkan apa yang BERANI Anda YAKINI
Keyakinan saja tidak cukup! Anda harus berjuang sekuat tenaga untuk mencapai tujuan tanpa takut gagal , sampai titik darah penghabisan. Gunakan konsep berpikir “serba mungkin” untuk menuju titik target yang telah ditetapkan.

Langkah 8
Sukseskan apa yang BERANI Anda PERJUANGKAN
Jangan melangkah setengah-setengah. Jika Anda meyakini dan berani berjuang, Anda harus mampu menyukseskan langkah-langkah tersebut. Berusahalah untuk selalu selalu sukses dalam langkah dan tindakan Anda, sekecil apapun itu.

Langkah 9
Nikmati apa yang TELAH Anda SUKSESKAN
Setelah behasil melalui target-target dan tujuan Anda, nikmatilah hasilnya. Kalau di awal perjuangan Anda berani bermimipi punya rumah mewah, mobil mahal, pesiar keliling dunia, lakukan seperti itu seperti apa yang Anda impi-impikan. Anda pantas dan harus menikmati perjuangan Anda.

Langkah 10
Sadari apa yang SEDANG Anda NIKMATI!
Orang sukses sejati memehami betul bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Sukses bisa bersifat sementara dan kadang orang harus berjuang dan berjuang lagi. Sukses sejati harus didukung oleh kepribadian dan sikap mental yang positif. Sukses sejati juga harus ditopang kehidupan spiritual (agama) yang sangat kokoh.

Praktikkan konsep “10 Berani Sukses” dengan optimis & konsisten. Niscaya sukses besar dapat tercipta. Selamat berkarya! Salam sukses Luar Biasa! disadur dari  http://t.co/wPAVx1XW
 
Copyright © 2012 Inspirasi Wanita - All Rights Reserved
Supported by Kilas Info - Powered by Blogger